lucu


Rabu, 13 Februari 2013

MENERAPKAN AKHLAK TERPUJI KEPADA DIRI SENDIRI



A.    PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Semua makhluk yang hidup di muka bumi ini tidak pernah terlepas dari keputusan Allah. Roda kehidupan akan senantiasa berputar, dari kesedihan sampai kebahagiaan. Keduanya akan datang silih berganti. Dalam hal ini, manusia wajib berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan hasil terbaik. Allah lebih melihat pada usaha yang dilakukan manusia daripada hasil yang diperolehnya.
Oleh karena itu, setiap manusia diharapkan agar senantiasa mengamalkan akhlak terpuji terutama terhadap diri sendiri. Yaitu tingkah laku yang baik yang merupakan tanda kesempurnaan iman seseorang kepada Allah SWT, dan itu ditujukan terhadap diri sendiri. Akhlak terpuji dilahirkan dari sifat-sifat yang terpuji pula. diantara akhlak terpuji terhadap diri sendiri yaitu, tawakal, ikhtiar, sabar, syukur, dan qana’ah.
Akhlak terpuji ini merupakan hal yang sangat urgen, sehingga sangat penting untuk dipelajari. Dengan harapan nantinya para siswa dapat menerapkannya dalam setiap kegiatan sehari-hari. Agar mampu mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran di setiap lingkup kehidupan ini.

2.      Rumusan Masalah
a.       Apakah pengertian dan pentingnya tawakal, ikhtiar, sabar, syukur dan qana’ah?
b.      Bagaimana bentuk dan contoh perilaku tawakal, ikhtiar, sabar, syukur dan qana’ah?
c.       Apakah nilai-nilai positif dari tawakal, ikhtiar, sabar, syukur dan qana’ah?
d.      Bagaimana perilaku tawakal, ikhtiar, sabar, syukur dan qana’ah?
B.     PEMBAHASAN
1.      Pengertian dan Pentingnya Tawakal, Ikhtiar, Sabar, Syukur & Qana’ah
a.       Tawakal
Tawakal atau tawakkul (bahasa Arab) berasal dari kata kerja (وكلّ), yang secara bahasa berarti menyerahkan diri.[1] Secara istilah, tawakal adalah menyandarkan permasalahan kepada Allah SWT guna memperoleh maslahat dan menolak mudharat dari urusan dunia dan akhirat serta menyerahkan semua urusan kepada-Nya.
Jadi tawakal adalah suatu sikap mental/ hati seseorang yang merupakan hasil dari keimanan yang tinggi kepada Allah, karena di dalam akidahnya telah tertanam bahwa Allah SWT yang menciptakan segala-galanya, pengetahuan-Nya Maha Luas, Dia yang menguasai dan mengatur alam semesta ini. Tawakal adalah berpegang teguh kepada Dzat Allah.[2] Keyakinan inilah yang mendorong manusia untuk menyerahkan segala persoalannya kepada Allah SWT. Hatinya tenang dan tenteram serta tidak ada rasa curiga, karena Allah Maha Tahu dan Maha Bijaksana.
Tawakal sering disalahartikan. Makna yang benar adalah penyerahan seorang hamba kepada Allah dalam perkara yang berada di luar kemampuannya, sebab ia tidak sanggup melakukannya. Adapun dalam perkara yang berada dalam batas kemampuan, dan ia sanggup melakukannya, maka dalam hal ini tidak ada tempat bagi tawakal.[3]
Tawakal terdiri atas bermacam-macam jenis menurut tingkatannya dan penamaannya sesuai dengan derajatnya sehingga dapat menjadi tawakal, tasliim, dan tafwidh.
Tawakal merupakan permulaan dari suatu kedudukan (maqam) yang bersifat rohani, at-tasliim adalah perantaranya, sedangkan tafwidh adalah akhirnya. Jika kepercayaan kepada Allah SWT itu ada akhirnya, tafwidh itulah akhirnya.[4]
Jika manusia telah bertawakal kepada Allah SWT maka buah tawakalnya ada 2:[5]
Yang pertama adalah kecintaan Allah kepadanya, sebagaimana firman-Nya:
...إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلمُتَوَكِّلِينَ (١٥٩)
Artinya:

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang tawakal” (Q.S. Ali Imran, 3: 159)[6]

Yang kedua adalah jaminan Allah baginya seperti firman-Nya:
 ...وَمَن يَتَوَكَّل عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسبُهُ ۥۚ ...(٣)
Artinya:

“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah kaan mencukupkan (keperluan)nya”. (Q.S. Ath- Thalaq, 65: 3)[7]

Dan juga pada hadits Nabi SAW yang artinya:

“Dari Umar r.a. mendengar bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Seandainya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah pasti Dia akan memberi kalian rizki kepada burung, ketika keluar dari sarang di pagi hari dengan perut kosong, pulang sore hari dengn perut kenyang””. (HR. At-Tirmidzi)[8]

1)      Manfaat Tawakal kepada Allah SWT
a)      Rezekinya dicukupkan dan diberikan ketenangan
b)      Dikuatkan dan dijauhkan dari setan
c)      Umat Nabi Muhammad adalah salah satu yang mendapat keistimewaan, yaitu masuk surga tanpa hisab. Di dalam hadis diriwayatkan, Nabi SAW pernah menyebutkan bahwa di antara umatnya ada tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab, yaitu orang-orang yang tidak membual, tidak mencuri, tidak membuat ramalan yang buruk-buruk, dan kepada Rabb mereka bertawakkal.[9]
b.      Ikhtiar
Kata ikhtiar berasal dari bahasa Arab (ikhtara- yakhtaru- ikhtiyaaran) yang berarti memilih. Adapun menurut istilah, ikhtiar yaitu berusaha untuk mencapai apa yang diinginkan, tidak berdiam diri dan berpangku tangan apalagi lari dari kenyataan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
إنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَومٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمْ‌ۗ ...(١١)
Artinya:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka”. (Q.S. Ar-Ra’d, 13: 11)[10]

Fitrah manusia adalah keinginan untuk menjadi lebih baik dalam kehidupannya. Mereka melakukan segala upaya untuk mewujudkan mimpi-mimpnya. Dan hal itu telah disinggung pada ayat di atas, yaitu semangat perubahan yang harus dimiliki oleh manusia.
Pesan yang terkandung di dalam ayat tersebut, agar terjadi sebuah perubahan adalah dengan jalan ikhtiar (berusaha). Islam sangat menekankan konsep ikhtiar bagi umat-Nya dalam menjalani kehidupan ini.
Sikap ikhtiar juga menegaskan sebuah harapan yang tinggi (optimis) dalam jiwa. Semangat untuk senantiasa memandang positif keadaan, sekaligus menghilangkan rasa putus asa yang seringkali menghalangi seseorang untuk berubah ke arah yang lebih baik.[11]
Dalam firman-Nya berikut ini, Allah menyatakan bahwa orang yang berputus asa dari rahmat Allah termasuk orang yang ingkar.
... إِنّهُ لاَ يَايْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللّهِ إِلاَّ الْقَوْمِ الْكَفِرُوْنَ (٨٧)

Artinya:
“Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir”. (Q.S. Yusuf, 12: 87)[12]

Putus asa adalah rasa rendah diri, tidak mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah. Jiwa dan raga yang telah disempurnakan Allah terlalu murah untuk dibayar dengan rasa putus asa. Sikap pesimis menghadapi pelbagai persoalan hidup, sama artinya dengan menyangsikan kekuasaan Allah. Hanya orang-orang yang kufur nikmat yang selalu berputus asa dan tidak mau berikhtiar.
Padahal, ikhtiar merupkan ciri pribadi seorang mukmin. Dengan ikhtiar, kita akan mengerahkan segala daya dan kemampuan yang kita miliki. Kita menggali potensi diri, sebagai anugerah yang telah diberikan Allah kepada kita. Ikhtiar merupakan salah satu bentuk rasa syukur kita kepada Allah. Kits memaksimalkan kinerja seluruh indera kita untuk menjemput rahmat Allah yang begitu luas. Ikhtiar adalah kebutuhan mutlak setiap manusia yang mengaku beriman kepada Allah.
Oleh karena itu, ketika kita ingin mengubah keadaan, mencari solusi atas berbagai persoalan hidup yang kita alami, dan berharap kehidupan yang lebih baik. Tidak ada kata lain, solusinya adalah ikhtiar. Setelah itu serahkan semua persoalan tersebut kepada Allah SWT, niscaya Allah SWT akan membantu memecahkan masalah itu.[13]
c.       Sabar
Sabar secara bahasa adalah menahan atau tabah. Sedangkan secara istilah adalah menahan diri dari segala sesuatu yang ia inginkan, dari kesedihan, kesulitan, kesusahan, putus harapan, sesuatu yang ditetapkan (dilarang ataupun diperintahkan) oleh suatu hukum. Sabar dalam pengertiannya yang menyeluruh ini adalah kemampuan untuk menguasai semua kemelut jiwa sehingga tidak terseret, ke kanan atau ke kiri, oleh bujuk rayu hawa nafsu dan pedihnya derita.[14]
Jadi sabar adalah gambaran dar keteguhan dalam menghadapi tuntutan hawa nafsu. Tuntutan kebaikan yang dimaksud adalah petunjuk Allah SWT kepada manusia tentang baik dan buruk, serta balasan dar perbuatan kita. Sifat inilah yang membedakan antara manusia dengan hewan dalam mengekang nafsu syahwat. Adapun yang dimaksud dengan tuntutan hawa nafsu adalah tuntutan syahwat dengan segala keinginannya. Barangsiapa yang mampu mengalahkan hawa nafsu, maka ia layak digolongkan sebagai orang-orang yang sabar. Aka tetapi apabila dirinya dikalahkan oleh hawa nafsunya dan tidak bersabar untuk mengekangnya, maka ia termasuk golongan setan.
Firman Allah SWT:                                                                      
ولَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِنَ ٱلأَموَٲلِ وَٱلأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٲتِ‌
ۗ وَبَشِّرِٱلصَّـٰبِرِينَ (١٥٥)
Artinya:
“Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikan berita gembira kepada orang-orang yang sabar”. (Q.S. Al-Baqarah, 2: 155)[15]

1)      Macam atau Tingkatan Sabar
a)      Shiddiquun
Ialah orang-orang yang benar lahir dan batinnya. Yang termasuk tingkat ini ialah para: Rasul, sahabat Beliau, orang saleh, yaitu orang yang bersikap patut dan wajar menurut Allah.
b)      Muqarrabuun
Ialah orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan mengerjakan semua yang diperintahkan atasnya mengenai bagian lahirnya saja terlihat patuh, tetapi batinnya ini belum tertutup pintu. Sehingga tiap manusia, berhak mencapainya. Tetapi, untuk menjadi Rasul pintunya sudah tertutup dengan telah diutus Nabi Muhammad SAW, karena Beliau Rasul terakhir.
c)      Mujahiduun
Ialah orang berjuang keras melawan hawa nafsunya dan lain-lain, sehingga ia bagaikan orang berperang yaitu berganti-ganti antara kalah dan menang. Manusia tingkat ini banyak dalam masyarakat.
d)     Ghafiluun
Ialah orang yang telah banyak kali kalah dari menang menentang lawannya, karena akalnya mudah dikalahkan, malahan mungkin ke puncaknya, ialah tidak mau tahu pada Allah SWT sedikit pun, sehingga yang tinggal syahadatnya saja.[16]
2)      Aspek Sabar
Pada dasarnya, apa yang dihadapi oleh manusia dalam hidupnya tidak lepas dari dua perkara, yaitu mengikuti hawa nafsu dan menjauhi hawa nafsu. Oleh karena itu, setiap orang butuh kesabaran dalam menahan dan mengendalikan hawa nafsunya dalam kehidupan sehari-hari. Itu artinya manusia tidak boleh lepas dari sikap sabar. Diantara aspek sabar dalam kehidupan manusia adalah:
a)      Sabar dalam Menghindari Maksiat
Kesabaran ini muncul apabila seseorang mau merenungkan akibat yang timbul dari suatu maksiat.
b)      Sabar dalam Menjalani Ketaatan
Sabar yang dimaksud ialah selalu memenuhi perintah Allah, memelihara keikhlasan ketika menunaikannya, dan menghiasi diri dengan ilmu pengetahuan.
c)      Sabar dalam Menghadapi Cobaan
Kesabaran ini tampak apabila seseorang mau merenungkan pahala yang akan diterima oleh orang yang tabah terhadap musibah.[17]
d.      Syukur
Syukur adalah salah satu refleksi dari sikap tawakal. Secara bahasa, berasal dari kata bahasa Arab “syukrun” yang berarti mengingat atau menyebut nikmat-Nya dan mengagungkan-Nya.[18] Syukur artinya sesuatu yang menunjukkan kebaikan dan penyebarannya. Sedangkan secara syar’i, syukur adalah memberikan pujian kepada Allah SWT dengan cara taat kepada-Nya, tunduk dan berserah diri hanya kepada-Nya serta bersikap amar makruf dan nahi mungkar. Karena Allah yang membeikan segala bentuk kenikmatan kepada kita.
Jadi, syukur sebagai sikap pengakuan terhadap nikmat Allah SWT. Rasa syukur tidak hanya melalui ucapan hamdalah ketika mendapatkan nikmat dari-Nya. Tetapi lebih dari itu, harus diwujudkan dengan tindakan nyata dan kepatuhan dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Allah memerintahkan manusia untuk bersyukur kepada-Nya, sebab kurang bersyukur merupakan cacat yang harus disersihkan.[19]
1)      Rukun Syukur
a)      Syukur Qalbi
Yaitu mengakui dan meyakini dengan sebenar-benarnya di dalam hati bahwa segala bentuk nikmat yang telah ia dapatkan hanya berasal dari Allah SWT semata.
b)      Syukur Lisan
Yaitu senantiasa memuji kepada Allah atas segala karunia dan anugerah yang telh dilimpahkan-Nya.
c)      Syukur Jawarih
Yaitu menggunakan segala bentuk nikmat yang telah dilimpahkan-Nya untuk mendapatkan rahmat dan ridha-Nya.[20]
2)      Kandungan Syukur
a)      Mengetahui nikmat. Tidak jarang seseorang diberi nikmat tetapi dirinya tidak tahu bahwa yang diberikan tersebut adalah nikmat.
b)      Menerima nikmat, yaitu menyambut gembira nikmat tersebut sambil menampakkan sikap butuh terhadap nikmat tersebut.
c)      Memuji nikmat, yaitu mensifati Sang Pemberi nikmat dengan sifat dermawan, mulia, dan sifat-sifat bagus lainnya.[21]
e.       Qana’ah
Kata Qana’ah berasal dari bahasa Arab yang berarti rela, suka menerima yang dibagikan kepadanya. Sedangkan menurut istilah, Qana’ah adalah menerima keputusan Allah SWT dengan tidak mengeluh, merasa puas dan penuh keridaan atas keputusan Allah SWT, serta senantiasa tetap berusaha sampai batas maksimal kemampuannya.
Menjadi orang yang kaya. Ini mungkin menjadi impian berjuta manusia di muka bumi. Rumah mewah, perhiasan, harta yang melimpah adalah simbol dari definisi kekayaan Islam sebagai agama fitrah memahami betul kecenderungan manusia untuk kaya. Namun Islam menawarkan definisi lain yang lebih bermuara dari dalam jiwa manusia, bukan pandangan mata. Jika makna kaya adalah kecukupan, Islam mengajarkan bagaimana menanamkan bagaimana “rasa kecukupan” tersebut dalam jiwa manusia. Ketika rasa cukup telah tertanam dalam hati, sifat qana’ah pun akan terpatri dalam jiwanya.
Syaikh Taj Al-Din Al-Dzakir berkata, “Tidak disebut qana’ah orang yang rakus dalam makanan. Orang yang qana’ah memiliki cukup harta, tetapi hemat dalam belanja dan makannya sedikit.” Rabi’ bin Anas berkata, “Sesungguhnya nyamuk dapat hidup karena lapar. Apabila kenyang, tubuhnya bertambah gemuk dan cepat mati. Begitu pula manusia. Jika terlalu banyak makan, hatinya akan mati”. Ini adalah perumpamaan dalam bersikap qana’ah.[22]
Sifat qana’ah harus kita tanamkan sejak dini, karena janji Allah SWT bahwa Dia telah menjamin rezeki kepada semua makhluk-Nya. Sebagaimana firman-Nya:
...وَمَا مِن دَابَّةٍ فِى ٱلأَرضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزقُهَا...(٦)
Artinya:
“Tiada suatu yang melata di bumi, melainkan di tangan Allah rezekinya.” (Q.S. Huud, 11: 6)[23]
وَوَجَدَكَ عَاءِلاً فَأَغنَىٰ (٨)
Artinya:
“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.” (Q.S. Ad-Dhuha, 93: 8)[24]

Ada beberapa hal yang diperlukan untuk membuat hati kita menjadi qana’ah:
1)      Istiqamah terhadap Allah
Istiqamah adalah sikap konsisten dalam menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
2)      Membebaskan hati dari penyakitnya
Di antara sekian penyakit hati yang paling mendapat perhatian besar adalah riya’, ujub, dan takabur. Riya’ bisa menggoda siapa saja, kapan dan dimana saja.
Seseorang yang riya’ beramal bukan karena Allah,  tapi karena ingin dilihat dan dipuji manusia. Sedangkan hati yang dihinggapi rasa ujub akan merendahkan orang lain, membicarakan dan membanggakan amal yang dilakukannya. Hati yang takabur akan terhalang dari pertolongan Allah.
3)      Meningkatkan rasa syukur
Ada banyak hal yang harus kita syukuri. Betapa Allah akan marah kepada hamba-Nya yang tak mampu bersyukur, dan akan menambah nikmat pada hamba-Nya yang pandai bersyukur.[25]
2.      Bentuk dan Contoh Perilaku Tawakal, Ikhtiar, Sabar, Syukur & Qana’ah
Sebagai seorang muslim, kita harus mengenali bentuk-bentuk dan contoh perilaku tawakal, ikhtiar, sabar, syukur, dan qana’ah sebgai berikut:
a.       Tawakal
1)      Melakukan sesuatu atas dasar niat ibadah kepada Allah SWT
2)      Tidak menggantungkan keberhasilan suatu usaha kepada selain Allah SWT
3)      Bersikap pasrah dan siap menerima apa pun
4)      Tidak memaksakan kehendak atau keinginan kepada siapa pun dan pilihan manapun
5)      Bersikap tegar dan tenang, baik dalam menerima keberhasilan maupun kegagalan.
Contoh:
Rajin belajar dan tawakal dengan berdo’a kepada Allah akan menghasilkan kemudahan dalam mengerjakan soal.
b.      Ikhtiar
1)      Mau bekerja keras dalam mencapai suatu harapan dan cita-cita.
2)      Selalu bersemangat dalam mengahadapi kehidupan.
3)      Tidak mudah menyerah dan putus asa
4)      Disiplin dan penuh tanggung jawab
5)      Giat bekerja dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup
6)      Rajin berlatih agar bisa meraih apa yang diinginkannya. [26]
c.       Sabar
1)      Bersabar dalam hal belajar untuk meraih cita-cita dan harapan
2)      Sabar ketika diejek oleh teman-teman, karena kesabaran akan membawa hasil yang positif
3)      Tidak mudah emosi atau marah
4)      Tidak tergesa-gesa
5)      Menerima segala sesuatu dengan kepala dingin
6)      Tidak mudah menyalahkan orang lain
7)      Selalu bersera diri kepada Allah SWT.
8)      Sabar dan tabah dalam belajar
d.      Syukur
1)      Selalu mengucapkan hamdalah atau terima kasih setiap kali menerima kenikmatan
2)      Menggunakan apa yang diberikan sesuai dengan kehendak pemberinya
3)      Menjaga dan merawat dengan baik apa yang telah diberikan
4)      Menyisihkan sebagian harta kita untuk diserahkan ke baitul mal
5)      Menyisihkan waktunya untuk membantu orang yang belum bisa membaca Al-Qur’an.[27]
e.       Qana’ah
1)      Selalu ikhlas menerima kenyataan hidup
2)      Tidak banyak berangan-angan
3)      Tidak bersikap iri terhadap kenikmatan yang diterima orang lain
4)      Sudah cukup merasa senang walaupun ke sekolah dengan berjalan kaki
5)      Merasa cukup dengan kondisi yang pas-pasan, asalkan mampu menyekolahkan anaknya.[28]
3.      Menunjukkan Nilai-Nilai Positif dari Tawakal, Ikhtiar, Sabar, Syukur dan Qana’ah
a.       Tawakal
1)      Memperoleh kepuasan batin karena keberhasilan uasahanya mendapat ridho Allah
2)      Memperoleh ketenangan jiwa karena dekat dengan Allah yang mengatur segala-galanya
3)      Mendapatkan keteguhan hati.
b.      Ikhtiar
1)      Terhindar dari sikap malas
2)      Dapat mengambil hikmah dar setiap usaha yang dilakukannya
3)      Memberikan contoh tauladan bagi orang lain
4)      Mendapat kasih sayang dan ampunan dari Allah SWT
5)      Merasa batinnya puas karena dapat mencukupi kebutuhan hidupnya
6)      Terhormat dalam pandangan Allah dan sesama manusia karena sikapnya
7)      Dapat berlaku hemat dalam membelanjakan hartanya.
c.       Sabar
1)      Terhindar dari bencana dan mala petaka yang disebabkan oleh nafsu
2)      Melatih diri mengendalikan hawa nafsu
3)      Disayang oleh Allah
4)      Memiliki emosi yang stabil
5)      Memiliki harapan akan masuk ke surga sesuai janji Allah dalam surah AlBaqarah ayat 155
6)      Berhasil mengembalikan persaudaraan yang hampir rusak. [29]
d.      Syukur
1)      Memperoleh kepuasan batin karena dapat menaati salah satu kewajiban hamba terhadap Allah SWT
2)      Terhindar dari sifat tamak
3)      Mendapat jaminan tambahan nikmat Allah.
e.       Qana’ah
1)      Terhindar dari sifat tamak
2)      Dapat merasakan ketentraman hidup karena merasa cukup atas karunia Allah yang dianugerahkan kepada dirinya.
3)      Mendapat jaminan tambahan nikmat dari Allah dan terhindar dari ancaman siksa yang berat.
4.       Menampilkan Perilaku Tawakal, Ikhtiar, Sabar, Syukur dan Qana’ah
a.       Tawakal
Manusia harus sadar dirinya lemah, terbukti sering mengalami kegagalan. Keberhasilan usaha manusia ada pada kuasa dan kehendak Allah semata-mata. Oleh sebab itu, manusia harus mau bertawakal kepada Allah setelah melakukan usaha secara sungguh-sungguh. Oleh sebab itu, pada waktu tawakal hendaknya memperbanyak do’a kepada Allah agar usahanya berhasil baik.[30]
b.      Ikhtiar
1)      Kuatkan iman kepada Allah SWT
2)      Hindari sikap pemalas
3)      Jangan mudah menyerah dan putus asa
4)      Berdo’a kepada Allah agar diberi kekuatan untuk selalu berikhtiar
5)      Giat dan bersemangat dalam melakukan suatu usaha
6)      Tekun dalam melaksanakan tugas, pandai-pandai memanfaatkan waktu
7)      Tidak mudah putus asa, selalu berusaha memajukan usahanya.
c.       Sabar
1)      Selalu ingat bahwa marah tidak dapat menyelesaikan masalah
2)      Memperbanyak bergaul dengan teman-teman yang baik, berakhlak mulia
3)      Membatasi diri dan bersikap hati-hati dalam bergaul denga teman yang betwatak keras dan kasar
4)      Hadapi segala sesuatu dengan tenang
5)      Hindari sifat tergesa-gesa.
d.      Syukur
1)      Menerima pemberian orang tua dengan senang hati
2)      Memanfaatkan uang untuk membeli hal-hal yang bermanfaat
3)      Tidak boros dalam menggunakan uang.[31]
e.       Qana’ah
1)      Sering memperhatikan orang-orang yang lebih miskin daripada kita
2)      Tidak sering memperhatikan orang yang lebih kaya agar kita  tidak merasa kurang
3)      Membiasakan diri berlaku hemat
4)      Biasakan bersikap ikhlas
5)      Hindari kebiasaan berangan-angan.[32]


C.    PENUTUP
1.      Kesimpulan
Tawakal adalah menyandarkan permasalahan kepada Allah SWT guna memperoleh maslahat dan menolak mudharat serta menyerahkan semua urusan kepada-Nya. Nilai positif dari tawakal ialah memperoleh kepuasan batin karena keberhasilan uasahanya mendapat ridho Allah.  Dan, contoh dalam berperilaku tawakal ialah bertawakal kepada Allah setelah melakukan usaha secara sungguh-sungguh.
Ikhtiar yaitu berusaha untuk mencapai apa yang diinginkan, tidak berdiam diri dan berpangku tangan apalagi lari dari kenyataan. Nilai positif dari ikhtiar ialah terhindar dari sikap malas. Dan, contoh perilakunya ialah berdo’a kepada Allah agar diberi kekuatan untuk selalu berikhtiar
Sabar adalah menahan diri dari segala sesuatu yang ia inginkan, dari kesedihan, kesulitan, kesusahan, putus harapan, sesuatu yang ditetapkan oleh suatu hukum. Nilai positifnya ialah terhindar dari bencana dan mala petaka yang disebabkan oleh nafsu. Dan, contoh perilakunya ialah selalu ingat bahwa marah tidak dapat menyelesaikan masalah
Syukur adalah memberikan pujian kepada Allah SWT dengan cara taat kepada-Nya, tunduk dan berserah diri hanya kepada-Nya serta bersikap amar makruf dan nahi mungkar. Nilai positifnya ialah memperoleh kepuasan batin karena dapat menaati salah satu kewajiban hamba terhadap Allah SWT. Dan, contoh perilakunya ialah memanfaatkan uang untuk membeli hal-hal yang bermanfaat
Qana’ah adalah menerima keputusan Allah SWT dengan penuh keridaan atas keputusan Allah SWT, serta senantiasa tetap berusaha sampai batas maksimal kemampuannya. Nilai positifnya ialah terhindar dari sifat tamak. Dan, contoh perilakunya ialah sering memperhatikan orang-orang yang lebih miskin daripada kita.



DAFTAR PUSTAKA

Al-Sya’rani, Abd Al-Wahhab, 99 Akhlak Sufi; Meniti Jalan Surga Bersama            Orang-Orang Suci. Bandung: PT Mizan Pustaka, 2004.

An-Naisabury, Imam Al-Qusyairi, Risalah al-Qusyairiyah, Terj. Mohammad           Luqman Hakiem. Surabaya:  Risalah Gusti, 2000.

As’ad, Aliy, Terjemah Ta’limul Muta’allim. Kudus: Menara Kudus, 2007.

Departemen Agama R.I., Al-Qur’an dan Terjemahnya. Surabaya: Al-Hidayah,       2002.

Hidayat, Junaidi, Ayo Memahami Akidah dan Akhlak untuk MTs/ SMP Islam       Kelas VIII. Jakarta: Penerbit Erlangga, 2009.

Mahmud, Abdul Halim, At-Tashawwuf fi Al-Islam, Terj. Abdullah Zakiy  Al       Kaaf. Bandung: CV Lingkar Pena, 2002.

Mahmud, Abdul Halim, Hal Ihwal Tasawuf: Al- Munqidz Minadhdhalal.   Bandung: Daarul Ihya, 1996.

Masykur, Kahar, Membina Moral & Akhlak. Jakarta: PT Rineka Cipta, 1994.

Nawawi, Imam, Terjemah Riyadhus Shalihin, Terj. Abu Fajar Al-Qalami dan         Abdul Wahid Al-Banjary. Jakarta: Gitamedia Press, 2004.

Noerhidayatullah, Insan Kamil: Metoda Islam Memanusiakan Manusia. Jakarta:     Penerbit Nalar, 2002.

Yunus, Mahmud, Kamus Arab Indonesia. Jakarta: Hidakarya, 1990.



[1] Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia (Jakarta: Hidakarya, 1990), 506.
[2] Imam Al-Qusyairi an-Naisabury, Risalah al-Qusyairiyah, terj. Mohammad Luqman Hakiem (Surabaya:  Risalah Gusti, 2000), 163.
[3] Noerhidayatullah, Insan Kamil: Metoda Islam Memanusiakan Manusia (Jakarta: Penerbit Nalar, 2002), 128.
[4]Abdul Halim Mahmud, At-Tashawwuf fi Al-Islam, terj. Abdullah ZakiyAl-Kaaf (Bandung: CV Lingkar Pena, 2002), 75-76.
[5] Abdul Halim Mahmud, Hal Ihwal Tasawuf: Al- Munqidz Minadhdhalal (Bandung: Daarul Ihya, 1996), 255.
[6] Departemen Agama R.I., Al-Qur’an dan Terjemahnya (Surabaya: Al-Hidayah, 2002), 90.
[7] Ibid., 816-817.
[8]Imam Nawawi, Terjemah Riyadhus Shalihin, terj. Abu Fajar Al-Qalami dan Abdul Wahid Al-Banjary (Jakarta: Gitamedia Press, 2004), 50.
[9] Junaidi Hidayat, Ayo Memahami Akidah dan Akhlak untuk MTs/ SMP Islam Kelas VIII (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2009), 17-18.
[10]Imam, Riyadhus, 337-338.
[11] Junaidi, Ayo Memahami, 18-19.
[12] Departemen, Al-Qur’an, 331.
[13] Junaidi, Ayo Memahami, 19-20.
[14] Noerhidayatullah, Insan, 100.
[15] Departemen, Al-Qur’an, 29.
[16] Kahar Masykur, Membina Moral & Akhlak (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1994), 387-388.
[17] Abd Al-Wahhab Al-Sya’rani, 99 Akhlak Sufi: Meniti Jalan Surga Bersama Orang-Orang Suci (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2004), 52-53.
[18] Kahar Mansyur, Membina Moral dan Akhlak (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1994), 34.
[19] Noerhidayatullah, Insan, 103.
[20] Junaidi, Ayo Memahami, 24.
[21] Abd Al-Wahhab, 99 Akhlak, 60.
[22] Abd Al-Wahhab, 99 Akhlak, 172.
[23] Departemen, Al-Qur’an, 298.
[24] Ibid., 900.
[25] Junaidi, Ayo Memahami, 25.
[26] Aliy As’ad, Terjemah Ta’limul Muta’allim (Kudus: Menara Kudus, 2007), 30.
[27] Junaidi, Ayo Memahami, 27.
[28] Ibid.
[29] Ibid., 28.
[30] Ibid., 28.
[31] Ibid., 28-29.
[32] Ibid., 29.

3 komentar: